SETIAP tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk meneguhkan kembali dasar negara sekaligus arah moral kehidupan berbangsa. Namun, peringatan tersebut sering kali berhenti pada seremoni formal: upacara, pidato, dan slogan kebangsaan. Padahal, tantangan terbesar Pancasila justru terletak pada bagaimana nilai-nilainya hidup dalam praktik sosial, terutama di dunia pendidikan.
Di Kota Palopo, peringatan Hari Lahir Pancasila memiliki relevansi yang sangat penting. Kota ini bukan sekadar wilayah administratif di Sulawesi Selatan, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai latar belakang budaya, agama, dan identitas sosial. Dalam konteks masyarakat yang semakin digital, kompetitif, dan rentan terhadap polarisasi, pendidikan menjadi arena utama untuk memastikan bahwa Pancasila tidak hanya dihafal, melainkan dipraktikkan.
Pemerintah Kota Palopo dalam beberapa tahun terakhir terus menegaskan pentingnya penguatan nilai kebangsaan dalam dunia pendidikan. Peringatan Hari Lahir Pancasila di Palopo secara konsisten mengangkat pesan tentang persatuan, toleransi, dan gotong royong sebagai fondasi pembangunan daerah. (Portal Resmi Pemerintah Kota Palopo) Di sisi lain, lembaga pendidikan di Palopo seperti UIN Palopo dan Universitas Cokroaminoto Palopo juga aktif menggelar seminar dan kegiatan penguatan nilai Pancasila di era digital. (UIN PALOPO)
Namun, pertanyaannya adalah: apakah pendidikan di Palopo sudah benar-benar mencerminkan semangat Pancasila?
Masalah utama pendidikan hari ini bukan hanya soal fasilitas atau angka partisipasi sekolah, melainkan krisis karakter dan arah pendidikan itu sendiri. Sekolah sering kali terlalu fokus pada capaian akademik, ranking, dan formalitas administratif, tetapi kurang memberi ruang bagi pembentukan watak kebangsaan. Akibatnya, lahir generasi yang cerdas secara teknis, tetapi lemah dalam empati sosial dan kesadaran kolektif.
Fenomena tersebut dapat dilihat dari meningkatnya perilaku intoleran di ruang digital, maraknya perundungan di lingkungan sekolah, hingga menurunnya budaya dialog di kalangan pelajar. Pendidikan Pancasila sering kali diajarkan secara teoritis dan monoton sehingga gagal menyentuh realitas kehidupan siswa. Bahkan di berbagai daerah, termasuk di lingkungan kampus nasional, muncul kritik bahwa pendidikan Pancasila kadang terasa seperti indoktrinasi semata, bukan ruang berpikir kritis. (Reddit)
Di Palopo, tantangan ini semakin kompleks karena kota ini sedang bergerak menuju masyarakat urban yang lebih terbuka. Arus informasi melalui media sosial membentuk pola pikir generasi muda secara cepat. Jika sekolah tidak mampu menjadi benteng nilai, maka ruang digital akan mengambil alih proses pendidikan karakter. Ironisnya, media sosial justru sering dipenuhi ujaran kebencian, disinformasi, dan budaya instan yang bertentangan dengan semangat Pancasila.
Karena itu, Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan Palopo untuk melakukan transformasi mendasar. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga warga negara yang memiliki kesadaran sosial, toleransi, dan tanggung jawab moral.
Nilai Ketuhanan misalnya, harus diterjemahkan dalam pendidikan yang menghormati keberagaman dan menolak fanatisme sempit. Nilai Kemanusiaan harus tampak dalam lingkungan sekolah yang bebas dari bullying dan diskriminasi. Nilai Persatuan harus diwujudkan melalui kolaborasi lintas sekolah, lintas agama, dan lintas komunitas. Sementara nilai Kerakyatan dan Keadilan Sosial harus tercermin dalam akses pendidikan yang merata bagi seluruh masyarakat Palopo, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Sayangnya, realitas pendidikan kita masih menghadapi kesenjangan. Sekolah unggulan tumbuh lebih cepat dibanding sekolah biasa. Siswa di wilayah perkotaan memiliki akses teknologi yang lebih baik dibanding mereka yang berada di daerah pinggiran. Jika ketimpangan ini terus dibiarkan, maka pendidikan justru akan memperlebar jurang sosial, sesuatu yang bertentangan dengan sila kelima Pancasila.
Di tengah situasi tersebut, tema Hari Pendidikan Nasional 2026 tentang “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” sebenarnya sangat relevan dengan semangat Pancasila. (Portal Resmi Pemerintah Kota Palopo) Pendidikan yang bermutu tidak cukup diukur dari nilai ujian, tetapi dari kemampuan sekolah membentuk manusia yang berintegritas dan memiliki kepedulian sosial.
Palopo memiliki modal sosial yang cukup besar untuk mewujudkan hal itu. Tradisi gotong royong masyarakat Luwu, kultur religius yang kuat, dan keberadaan perguruan tinggi dapat menjadi kekuatan utama membangun pendidikan berbasis nilai. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah paradigma pendidikan dari sekadar “mengajar” menjadi “membentuk manusia.”
Sekolah-sekolah di Palopo perlu memperbanyak ruang diskusi kritis tentang kebangsaan, literasi digital, dan toleransi sosial. Guru tidak lagi cukup berperan sebagai pemberi materi, tetapi juga menjadi teladan moral. Pemerintah daerah pun perlu memperkuat kebijakan pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan zaman, bukan sekadar program seremonial tahunan.
Selain itu, penting untuk melibatkan keluarga dan komunitas dalam pendidikan Pancasila. Sebab, karakter anak tidak hanya dibentuk di ruang kelas. Ketika lingkungan sosial dipenuhi konflik, ujaran kebencian, dan pragmatisme politik, maka sekolah akan kesulitan menanamkan nilai kebangsaan secara efektif.
Hari Lahir Pancasila seharusnya menyadarkan kita bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas karakter generasi mudanya. Kota Palopo memiliki kesempatan untuk menjadi contoh bagaimana pendidikan lokal dapat menjadi alat penguatan ideologi kebangsaan secara modern dan inklusif.
Pada akhirnya, Pancasila bukan sekadar teks sejarah yang dibacakan saat upacara. Ia harus hidup dalam cara sekolah mendidik, cara guru mengajar, dan cara masyarakat memperlakukan sesama. Jika pendidikan di Palopo mampu menjadikan Pancasila sebagai praktik hidup sehari-hari, maka kota ini tidak hanya akan melahirkan generasi cerdas, tetapi juga generasi yang beradab dan mampu menjaga Indonesia di tengah perubahan zaman.
Penulis : Andi Zulkifli Daido (Peneliti AZDA Institute)






