BIREUEN – Janji Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk tidak meninggalkan para korban bencana seolah menguap di Kabupaten Bireuen, Aceh. Puluhan korban banjir terpaksa menyambut Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah pada Sabtu (21/3/2026) dari balik tenda darurat yang dipasang persis di halaman Kantor Bupati Bireuen.
Kondisi para pengungsi ini berbanding terbalik dengan jaminan yang pernah dilontarkan Presiden Prabowo pada malam pergantian tahun lalu di Tapanuli Selatan. Saat itu, ia menegaskan pemerintah akan bekerja keras memulihkan kondisi pascabencana dan tidak akan meninggalkan masyarakat terdampak.
”Dan percayalah bahwa pemerintahmu, bahwa pemimpin-pemimpinmu, bahwa presidenmu tidak akan pernah meninggalkan saudara-saudara sekalian, kita akan bersama,” ujarnya saat malam pergantian tahun bersama para pengungsi di Desa Batu Hula, Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (31/12/2025) malam, dikutip Detik.com.
Namun faktanya, warga menjadikan halaman Kantor Bupati Bireuen sebagai kamp pengungsian karena hak-hak dasar mereka belum terpenuhi. Mulai dari Hunian Sementara (Huntara), Dana Tunggu Hunian (DTH), Jaminan Hidup (Jadup), Hunian Tetap (Huntap), hingga hak-hak lainnya urung direalisasikan oleh pemerintah daerah.
Pada Jumat (20/3/2026) sore, para pengungsi menyatakan kesiapan mereka merayakan Lebaran di pengungsian. Jamilah, warga Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan, mengaku sudah mengikhlaskan kondisi yang ia hadapi bersama rekan-rekannya.
“Memang bukan di rumah sendiri, tapi di sini kami merasa lebih nyaman. Tenda ini adem, tidak seperti di kampung yang panas. Kami ingin tetap merayakan Lebaran, walau dalam keadaan begini,” ujar Jamilah dengan mata berkaca-kaca.
Hal senada disampaikan Suratin, yang juga berasal dari Gampong Kapa. Menurutnya, merayakan Idulfitri di pengungsian justru memperkuat rasa kekeluargaan sesama korban banjir.
“Kami saling menguatkan. Lebaran kali ini di tenda pengungsian, tapi kami tidak sendiri. Yang penting anak-anak masih bisa tersenyum,” ucapnya lirih.
Sementara itu, tekad untuk terus menyuarakan keadilan disampaikan oleh Ramadhan, warga Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka.
“Kami sudah pasrah. Lebaran di tenda pun tidak apa-apa, asalkan dalam suasana kebersamaan. Kami tetap bertahan di sini, sampai hak-hak kami korban banjir dipenuhi pemerintah” katanya.
Keberadaan mereka di pusat pemerintahan ini bukan tanpa usaha penyelesaian. Sebelumnya, warga sempat menggelar aksi damai pada Senin (16/3/2026) untuk menuntut kejelasan. Sayangnya, aksi tersebut berujung buntu tanpa kesepakatan. Alih-alih menemui titik terang, Bupati Bireuen, H. Mukhlis, ST, justru dilaporkan bertolak ke luar daerah di tengah krisis yang mendera warganya. (mis)








