CIREBON – Kenaikan harga plastik kemasan di Kabupaten Cirebon pasca Lebaran 2026 mulai dirasakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Lonjakan harga ini berdampak langsung pada biaya operasional pedagang, khususnya kaki lima, yang kini harus memutar strategi agar tetap bertahan.
Salah satu pedagang, Nurul Jazilah (39), mengaku kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh jenis plastik kemasan. Kondisi ini membuat margin keuntungan semakin menipis.
“Sangat terasa sekali kenaikannya. Dengan harga plastik yang naik, otomatis modal belanja juga ikut bertambah,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Kenaikan Harga Plastik Signifikan
Berdasarkan keterangannya, kenaikan paling mencolok terjadi pada plastik ukuran 250 gram yang biasa digunakan untuk membungkus es. Harganya melonjak dari Rp8.500 menjadi Rp14.500 per unit.
Tidak hanya itu, berbagai jenis kemasan lain juga mengalami kenaikan, seperti cup plastik ukuran 16 (isi 50 pcs) dari harga awal Rp8.000 menjadi Rp12.500. Cup 18 slim (isi 25 pcs) naik dari harga Rp8.000 ke Rp10.000.
Sedangkan cup kopi kecil (isi 50 pcs) kini dibanderol dengan harga Rp6.500 dari harga awal hanya Rp5.000. Plastik kresek juga alami kenaikan harga sebesar Rp1.500. Harga awal plastik kresek Rp4.000 naik menjadi Rp5.500.
Kenaikan juga terjadi pada perlengkapan pendukung seperti sedotan, meski tidak dirinci angkanya.
Kondisi ini menempatkan pelaku usaha kecil pada situasi sulit. Jika harga jual dinaikkan, mereka berisiko kehilangan pelanggan. Namun, jika bertahan dengan harga lama, keuntungan akan terus tergerus.
Fenomena ini menjadi tantangan serius, terutama di momentum pasca Lebaran yang biasanya menjadi periode peningkatan penjualan.
Diskop UKM Sebut Faktor Teknis Jadi Penyebab
Sementara itu, Kepala Bidang Usaha Mikro Diskop UKM Kabupaten Cirebon, Syamsuri, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik kemungkinan dipicu oleh faktor teknis dalam rantai pasokan.
“Dampak kenaikan harga plastik mungkin bukan karena faktor geopolitik global seperti perang di Timur Tengah. Ada faktor-faktor lain yang menyebabkan harga itu naik,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan resmi atau keluhan massal dari UMKM binaan terkait kenaikan tersebut.
“Dari grup-grup UMKM yang ada, kami belum mendengar bahasan soal itu,” pungkasnya.
Kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik kemasan menunjukkan bahwa tekanan terhadap UMKM tidak hanya datang dari bahan baku utama, tetapi juga dari komponen operasional lainnya.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, dikhawatirkan akan berdampak pada stabilitas usaha kecil di Kabupaten Cirebon, terutama bagi pedagang kaki lima yang sangat bergantung pada efisiensi biaya. (Mu’min)







