CIREBON – Kenaikan harga plastik kemasan mulai dikeluhkan para pedagang kecil di Kabupaten Cirebon dalam beberapa hari terakhir.
Meski isu ketegangan geopolitik di Timur Tengah santer disebut sebagai pemicu, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Kabupaten Cirebon menilai fenomena ini tidak serta-merta disebabkan oleh konflik internasional tersebut.
Kepala Bidang Usaha Mikro Diskop UKM Kabupaten Cirebon, Syamsuri, menegaskan bahwa korelasi antara perang global dengan harga plastik di tingkat lokal belum dapat dipastikan secara langsung.
Menurutnya, fluktuasi harga lebih sering dipengaruhi oleh variabel teknis di dalam rantai pasok.
“Kalau menurut kami, dampak kenaikan harga plastik mungkin bukan, atau belum bisa ditentukan karena faktor perang di Timur Tengah. Ada faktor-faktor lain yang menyebabkan harga itu naik,” ujar Syamsuri saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/4/2026).
Syamsuri menambahkan bahwa hingga saat ini, pihaknya belum menerima laporan resmi atau keluhan massal dari para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan dinas.
Berdasarkan pantauan di berbagai grup koordinasi, gejolak terkait biaya produksi akibat plastik belum terlihat signifikan.
“Sementara dari grup-grup UMKM yang ada, kami belum mendengar bahasan soal itu. Paling yang dibahas isu-isu di luar itu semua,” pungkasnya.
Ia mengimbau pelaku usaha agar tidak terburu-buru menyimpulkan situasi global sebagai penyebab tunggal dan tetap tenang memantau kebijakan internal pasar.
Kontras dengan pantauan dinas, para pedagang di akar rumput mengaku sudah mulai tercekik oleh kenaikan harga yang drastis.
Arif, seorang pedagang buah lokal, mengeluhkan kenaikan harga kantong plastik yang mencapai Rp5.000 per pak.
“Biasanya hanya Rp7.500, sekarang sudah tembus Rp12.500 hingga Rp13.000,” ungkap Arif, Minggu (12/4).
Bagi Arif, plastik adalah komponen wajib yang tidak bisa digantikan, sehingga kenaikan ini langsung membengkakkan modal operasionalnya.
Nasib serupa dialami Ali, pedagang es di Cirebon. Ia membeberkan bahwa harga plastik kiloan yang semula berada di kisaran Rp30.000, kini telah merangkak naik hingga di atas Rp40.000 per kilogram.
“Saya jualan es, plastik itu kebutuhan utama. Dengan harga segini, modal harian saya naik otomatis. Kami merasa sangat terbebani,” keluh Ali.
Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran bagi para pedagang kecil yang memiliki margin keuntungan tipis. Baik Arif maupun Ali berharap pemerintah, baik pusat maupun daerah, segera melakukan intervensi pasar atau mencari solusi konkret agar harga plastik kembali stabil.
“Kami ingin harga turun lagi agar usaha kecil seperti kami tidak semakin terhimpit,” tutup Ali. (Mu’min)






